SINDIKASI MEDIA MODERASI BERAGAMA

Artikel

Membasuh Luka dengan Takwa: Refleksi Ramadan di Sisa Lumpur Aceh

Oleh: Taufiqul Hadi (Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

Suasana berbuka puasa Ramadhan di pelataran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (sumber foto: Antaranews.com)

Tawassuth.id – Tahun ini bulan Ramadan menyapa, ribuan masyarakat di Aceh tidak hanya menyambutnya dengan lantunan zikir, namun dengan sisa lumpur yang masih membekas di pelataran rumah. Ramadan kali ini pun bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah manifestasi spiritualitas yang mendalam di tengah upaya pemulihan fisik dan mental pasca-bencana.

Spiritualitas Ramadan di tengah sisa bencana menuntut ibadah yang “membumi”, di mana kesalehan individu harus selaras dengan kepedulian sosial. Puasa bagi warga Aceh saat ini tentang bagaimana memastikan bahwa Meunasah bukan hanya tempat sujud, namun ruang penyembuhan trauma kolektif. Tradisi buka puasa bersama menjadi momentum penting untuk saling menguatkan. Memastikan tidak ada tetangga yang berbuka dalam kesendirian atau kekurangan akibat harta benda mereka yang hanyut terbawa arus banjir.

Bencana banjir yang terus berulang di Aceh menjadi pengingat tajam akan pentingnya Hablu Minal ‘Alam atau hubungan manusia dengan alam. Ramadan seharusnya menjadi momentum “taubat ekologis” bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan. Taubat yang sejati bukan sekadar lisan yang beristighfar, melainkan komitmen nyata untuk berhenti merusak hutan. Di samping aliran sungai yang selama ini menjadi pelindung alami daratan Aceh. Kesucian bulan ini adalah waktu yang tepat untuk merenungi bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari iman.

Zakat, infaq, dan sedekah yang dikumpulkan sepanjang bulan suci ini memiliki urgensi yang berbeda tahun ini. Yakni sebagai “napas buatan” bagi ekonomi warga yang lumpuh. Di saat banyak petani kehilangan hasil panen karena sawah yang terendam, kedermawanan sosial menjadi jembatan yang menghubungkan tangan yang berlebih dengan tangan yang kekurangan. Ibadah yang paling utama di tengah situasi ini bukan hanya memperlama sujud di keheningan malam, melainkan juga memperpendek jarak bantuan bagi mereka yang masih berjuang membersihkan rumah dari sisa-sisa reruntuhan.

Sebagai penutup, Ramadan di Aceh tahun ini adalah potret nyata dari resiliensi masyarakat yang tengah ditempa ujian. Menjalankan ibadah di tengah keterbatasan air bersih dan hunian yang belum pulih sepenuhnya adalah bentuk jihad yang sesungguhnya. Mari kita jadikan bulan suci ini sebagai titik balik untuk membangun Aceh yang lebih tangguh; sebuah daerah yang tidak hanya kuat dalam syariat dan ritual, tetapi juga unggul dalam solidaritas kemanusiaan dan pelestarian alam demi masa depan anak cucu.

You may also like...