Oleh: Taufiqul Hadi (Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

Tawassuth.id – Bagi masyarakat Aceh, aroma daging sapi yang dimasak dalam belanga bukan sekadar penanda masakan akan segera matang, melainkan identik dengan tradisi yang yang dikenal dengan Meugang — sebuah ritus kultural yang telah berakar sejak zaman Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda hingga sekarang. Hari meugang dimanfaatkan oleh masyarakat Aceh untuk berkumpul bersama dengan memasak dan menyantap daging, tak jarang ada juga yang mengundang sanak saudara, tetangga hingga anak yatim untuk menikmati hidangan secara bersama-sama.
Tradisi ini unik karena ia berdiri di ambang pintu momen-momen sakral yaitu memasuki bulan suci Ramadan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Di sini, daging bukan sekadar komoditas dapur, melainkan simbol kemenangan dan rasa syukur. Ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang kepala keluarga saat menenteng beberapa kilogram daging dengan bungkusan daun pisang atau plastik di tangannya untuk dibawa pulang dan dimasak bersama keluarga.
Menghubungkan Meugang dengan konteks Aceh pasca bencana banjir dan longsor adalah tentang melihat resiliensi. Mempertahankan Meugang di tengah situasi sulit bukan berarti memaksakan diri secara finansial, melainkan menjaga marwah dan harapan. Bau masakan di dapur-dapur pengungsian atau rumah yang baru dibersihkan adalah pesan kuat bahwa hidup harus terus berjalan dan keberkahan Ramadan harus tetap disambut dengan kepala tegak.
Tradisi Meugang yang melintasi zaman ini membuktikan bahwa budaya Aceh tidak kaku melainkan adaptif. Di tahun ini, hari meugang seyogyanya menjadi “Meugang Solidaritas”. Jika dulu Sultan membagikan daging untuk rakyatnya, kini giliran kita memastikan bahwa saudara kita yang rumahnya baru saja terendam air, tetap bisa merasakan nikmatnya sepotong daging dan hangatnya kebersamaan. Banjir boleh saja menghanyutkan harta benda, namun ia tidak boleh menghanyutkan nilai kemanusiaan dan solidaritas yang telah dijaga selama ini. Semoga.
