
Oleh: Taufiqul Hadi (Dosen Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)
Tawassuth.id – Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh kembali menjadi pengingat bahwa bencana alam bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan juga ujian sosial dan kemanusiaan. Luapan air yang datang secara tiba-tiba telah merusak rumah warga, fasilitas umum, lahan pertanian, serta memutus aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat. Di tengah duka dan kerugian yang ditimbulkan, bencana ini menuntut perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas.
Secara alamiah, banjir bandang sering kali dipicu oleh curah hujan ekstrem dan kondisi geografis yang berbukit serta dilalui banyak sungai. Namun demikian, faktor manusia seperti penggundulan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, dan lemahnya pengelolaan lingkungan turut memperbesar risiko terjadinya bencana. Oleh karena itu, banjir bandang di Aceh dan Sumatra seharusnya tidak hanya dipahami sebagai takdir alam semata, tetapi juga sebagai peringatan agar pembangunan dilakukan secara lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Dalam menghadapi bencana, sikap sabar, saling tolong-menolong dan keikhlasan merupakan nilai yang harus terus hidup di tengah masyarakat. Bencana tidak memadamkan semangat kebersamaan, justru memperkuat solidaritas sosial, baik dalam bentuk gotong royong membersihkan lingkungan, membantu korban, maupun dukungan moril dan doa.
Ketabahan dalam menghadapi bencana bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan usaha. Sikap tabah harus dibarengi dengan kesadaran kolektif untuk memperbaiki tata kelola lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan bencana, serta memperkuat sistem peringatan dini. Dengan demikian, penderitaan akibat bencana di masa mendatang dapat diminimalkan.
Akhirnya, banjir bandang di Aceh dan Sumatra adalah pelajaran berharga tentang hubungan manusia dengan alam dan dengan sesama. Ketabahan masyarakat menjadi kekuatan moral yang patut diapresiasi, sementara upaya pencegahan dan penanggulangan bencana harus terus ditingkatkan. Dari musibah ini, harapannya lahir kesadaran bersama untuk membangun kembali Aceh dan Sumatra yang lebih tangguh, peduli lingkungan, dan berlandaskan nilai kemanusiaan serta keimanan.
